Rupanya Teuku Umar Sangat Mahir Bersandiwara Dengan Belanda

Hari ini kami sekeluarga berencana untuk ziarah kemakam pahlawan Teuku Umar guys. Sebelum kami melakukan perjalanannya, kami mempersiapkan diri terlebih dahulu.

Mulai dari bekal, kemudian kondisi fisik yang fit dan tentunya sipengabadi moment alias kamera. Setelah merasa sudah siap, kami sekeluarga langsung berangkat dengan mobil.

Makam Teuku Umar berada di Meulaboh guys yang dimana kami harus melewati 1 kabupaten terlebih dahulu sebelum sampai di Meulaboh.

Saya sangat menikmati perjalanan ini guys, dengan ditemani alunan musik yang merdu, menjadikan perjalanan ini semakin menyenangkan.

Beberapa saat kemudian, saya mulai merasa mengantuk, kemudian saya memutuskan untuk tidur sejenak didalam mobil.

Beberapa jam kemudian akhirnya kami pun sampai di Meulaboh. Kemudian kami langsung menuju kemakam Teuku Umar.

Jarak antara kota Meulaboh dengan makam Teuku Umar sangatlah jauh guys. Katanya ni, setelah Teuku Umar meninggal karena tertembak di pantai Meulaboh, banyak Belanda yang mengincar jasad atau kepala dari Teuku Umar guys, oleh karena itu jasad Teuku Umar dibawa lari jauh kedalam Hutan.

Saya juga terkejut, karena memang jarak menuju kemakam beliau terlalu jauh, saya sempat berpikir bagaimana cara orang jaman dulu melarikan jasad Teuku Umar dari kejaran tentara Belanda, sedangkan jarak antara pantai menuju kehutan yang terlalu jauh untuk ditempuh dengan kaki.

Beberapa saat kemudian baru saya sampai ditempat makam Teuku Umar guys.

Rupanya Teuku Umar Sangat Mahir Bersandiwara Dengan Belanda
Keren kan guys?
Disekitar wilayah makamnya guys, banyak poster yang menceritakan tentang sejarah Teuku Umar dan disini juga terdapat banyak balai-balai tempat melakukan kegiatan ibadah atau acara adat.

Rupanya Teuku Umar Sangat Mahir Bersandiwara Dengan Belanda
Lagi khusuk bacanya.
Teuku Umar lahir di Meulaboh kabupaten Aceh Barat pada tahun 1854, ayah Teuku Umar bernama Teuku Ahmad Mahmud, sedangkan nama ibunya adalah Cut Mohani. Teuku Umar mempunyai tiga orang saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan.

Teuku Umar pertama kali berperang pada usia 19 tahun. Pada awalnya Teuku Umar berjuang di kampungnya sendiri, kemudian baru dilanjutkan ke Aceh Barat. Kerennya lagi ni guys, saat Teuku Umar masih muda, ia telah diangkat sebagai Keuchik(Kepala Desa) di daerah Daya Meulaboh.

Pada saat usianya menginjak 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, seorang anak Uleebalang Glumpang. Kemudian untuk meningkatkan derajatnya, Teuku Umar menikah lagi dengan Nyak Malighai, seorang puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim.

Kemudian, Teuku Umar menikahi seorang janda yang bernama Cut Nyan Dhien pada tahun 1880, . Suami Cut Nyak Dhien bernama Teuku Ibrahim Lamnga meninggal  pada bulan Juni 1887 dalam sebuah peperangan melawan Belanda di Gle Tarun.

Teuku Umar adalah orang yang sangat ahli dalam bidang sandiwara. Teuku Umar pernah beberapa kali berpura-pura bekerja sama dengan pihak Belanda, tentunya Belanda berhasil dilabui oleh Teuku Umar.

Teuku Umar pernah berpura-pura menjadi antek Belanda. Ketika Teuku Umar sudah bergabung dengan Belanda, Teuku Umar berpura-pura menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Dan itu semua dilakukan Teuku Umar hanyalah untuk mencari hati Belanda saja.

Dalam sebuah misi peperangan, pada saat itu Teuku Umar masih memihak kepada Belanda. Dalam misi tersebut, Teuku Umar membunuh 32 orang tentara Belanda dan beberapa panglimanya di tengah laut. Tak hanya itu, Teuku Umar juga merampas seluruh senjata dan perlengkapan perang milik Belanda. Setelah itu Teuku Umar kembali lagi berpihak kepada Aceh.

Setelah itu, Teuku Umar memberi hasil rampasan kepada tentara Aceh. Kemudian Teuku Umar berhasil merebut daerah 6 mukim dari tangan Belanda, tentunya Teuku Umar sebagai pimpinan dalam perebutan daerah 6 mukim tersebut.

Teuku Umar tak hanya satu kali berpura-pura atau bersandiwara dengan Belanda. Untuk kedua kalinya Teuku Umar kembali lagi berpura-pura memihak kepada Belanda.

Pada sandiwara yang kedua kalinya Teuku Umar berhasil mengambil hati orang Belanda, tak hanya itu Teuku Umar juga dihadiahi dengan gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland.

Pada saat memihak kepada Belanda Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dengan pos-pos Aceh, akan tetapi Teuku Umar tetap menyerang Uleebalang yang memeras rakyat misalnya Teuku Mat Amin.

Pada sandiwara kali ini Teuku Umar berhasil membawa pulang 800 buah senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi dan uang 18.1000 dollar.

Setelah itu, Teuku Umar mengajak uleebalang lainnya untuk berperang melawan Belanda.

Tindakan Teuku Umar berpura-pura berpihak kepada Belanda alias bersandiwara dengan Belanda patut di acungi jempol guys. Berkat perjuangan Teuku Umar dulu, kita bisa merasakan kemerdekaan seperti saat sekarang ini.

Oia guys, Teuku Umar juga di anugrahi sebagai Pahlawan Nasional lo.

Sekarang, nama Teuku Umar di abadikan dalam sebuah nama Universitas, yaitu Universitas Teuku Umar, yang berada di Aceh Barat

Tak hanya pergi kemakamnya saja, kami sekeluarga juga pergi ke monument Kupiah Teuku Umar yang berada dipesisir pantai.

Monument Kupiah Teuku Umar sangatlah bagus guys.

Rupanya Teuku Umar Sangat Mahir Bersandiwara Dengan Belanda
Keren kan?

Rupanya Teuku Umar Sangat Mahir Bersandiwara Dengan Belanda

Setelah berfoto-foto, baru kemudian kami pulang kerumah.

Ya sekitar jam 12 malamlah kami sampai dirumah.

Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan.


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Rupanya Teuku Umar Sangat Mahir Bersandiwara Dengan Belanda"

  1. Makasih mas, sejarah ini hapir terlupakan mas .. solut mas update terus ya mas

    BalasHapus