Kesabaran ku Mulai Menebal

Sumber gambar : www.dakwahjomblo.com
Hari ini sungguh hari yang tidak bisa saya lupakan, karena hari ini mempunyai arti tersendiri bagi saya. Dan hari ini adalah hari yang sangat sial bagi saya dan adik leting saya yang berinisial Fl.

Pagi ini saya menunggu bes ditempat biasa, yaitu di beton samping jalan. Bisa dibilang saya cukup lama menunggu bes tiba tapi besnya tak kunjung datang juga. "Mungkin hari ini tidak ada bes" kalimat itulah yang terucap dalam hati kecil saya pada saat itu.

Beberapa saat kemudian, tiba lah Fl, kemudian dia memberhentikan keretanya ditempat saya menunggu bes dan mengajak saya pergi sekolah sekalian dengannya. Saya sudah beberapa kali nebeng sama si Fl.

Dalam perjalanan menuju kesekolah dengan Fl, rambut saya yang tadinya saya sisir dengan rapi, berubah menjadi berantakan karena terkena tiupan angin. Beruntung saya membawa sisir, jadi nanti disekolah rambut yang berantakan tadi bisa saya rapikan kembali.

Beberapa menit perjalanan berlangsung, tiba-tiba saya mendegar suara angin, seperti suara bocor ban "Teesss" Kira-kira seperti itulah suaranya. Ternyata dugaan saya benar, ban kereta si Fl rupanya benar-benar bocor.

Kebetulan saya tau dimana lokasi tambal ban, kemudian kami berhenti dan mendorong kereta ketempat tambal ban yang jaraknya tidak jauh dari lokasi bocor ban tadi.

Rasanya sangat lega ketika sampai dilokasi tambal ban. Kemudian kami menyuruh kepada bapak yang punya bengkel untuk segera menambal bannya, ya mumpung masih awal.

Sambil menunggu ritual tambal ban nya selesai, saya dan Fl berbincang beberapa hal yang tidak penting, kami tertawa bersama karena kejadian bocor ban ini.

Saya tidak frustasi akan hal ini, karena waktu masih menunjukkan pukul 06:50 Wib, kami menganggap seolah-olah ini bukan masalah besar ataupun masalah yang patut ditangisi.

Yang sedikit saya khawatirkan karena hari ini adalah hari Senin, tentunya upacara rutin dilaksanakan setiap hari Senin.

Di pekarangan tambal ban, saya melihat banyak sekali bebek Angsa. Gerombolan Angsa yang sedang saya lihat mengingatkan saya akan masalalu saya, masa-masa dimana saya bernyanyi lagu potong bebek angsa dengan suara cempreng yang saya miliki. Yap, masa itu adalah masa-masa saya sekolah Tk dulu.

Sekitar pukul 7 lewat, akhirnya ban selesai ditambal. Agar tidak menimbulkan perkara, kami memutuskan untuk membayar ongkos dari kegiatan tambal ban ini.

Sebelum berangkat, saya mengucapkan terimakasih kepada bapak tukang bengkel. Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan kami.

Dalam perjalanan, kami merasa ada yang beda, tapi apa ya? Sepeda motor ini jalannya goyang-goyang. Saya melihat ke ban belakang, dan Astaghfirullah hal'azimmm ban nya bocor kembali.

Huufff, sabar sabar sabar, kenapa ini bisa terjadi? Mungkin saja ritual tambal ban tadi hanyalah sebuah rekayasa? 

Kami turun dari kereta dengan rasa kesal. Baru jalan beberapa meter ban nya kembali bocor, ah sudahlah.

Tak punya pilihan lain, kami harus mendorong keretanya kembali ketempat tambal ban tadi. 

Ketika kami sedang mendorong keretanya, banyak orang yang care terhadap kami. Ada orang yang menunjukkan arah tempat tambal ban terdekat padahal tempatnya kami sudah tau. Ada juga orang yang bertanya, kenapa? Kemudian saya jawab "Bocor ban" lalu mereka pergi begitu saja.

Nasib-nasib. Inilah yang dinamakan cobaan. Meski kami menghadapi cobaan seperti ini, bukan berarti niat kami untuk pergi sekolah sirna.

Beberapa saat kemudian, kami sampai ditempat tambal ban yang tadi. 

"Pak, bannya bocor lagi" itulah yang saya ucapkan pada bapak tersebut. 

Kemudian bapak itu segera mengecek kembali bannya, dan ternyata bannya bocor di titik yang sama. 

Saya tidak tau apa yang dipikirkan oleh bapak ini.

Pada bocor ban yang kedua kali nya, saya mulai prustasi, karena jam menunjukkan hampir pukul setengah delapan. Saya hanya bisa pasrah, saya tidak bisa berbuat banyak.

Pada kali ini, saya meminta bapak tambal bannya untuk memeriksa dengan jeli titik bocor bannya. Agar nanti bannya tidak bocor kembali.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan tapi ban nya belum selesai ditambal.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tapi bannya belum juga selesai ditambal.

Setelah sangat lama menunggu akhirnya ban nya selesai ditambal juga. Yap, tentunya upacara disekolah sudah selesai.

Sebelum saya berangkat, saya tak lupa mengucapkan terimakasih kepada bapak tambal ban.

Setelah itu, saya dan Fl langsung melanjutkan perjalanan kesokolah.

Dan Alhamdulillah, kami tiba dirumah sekolah dengan selamat.

Tentunya kami harus berhadapan dengan guru piket. 

Setelah itu, guru piket memperbolehkan kami untuk masuk ke kelas.

Karena hal itu, saya bisa merasakan bahwa kesabaran saya mulai menebal.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kesabaran ku Mulai Menebal"

Posting Komentar