Nasi Black Forest

Kisah ini berawal ketika saya mengikuti sebuah organisasi, yaitu organisasi Pramuka. Saya cukup senang dengan organisasi pramuka ini karena karakter dari organisasi ini cenderung mengutarakan kebersamaan dan kekompakkan seluruh anggotanya.

Pada saat itu gugus depan atau sama maknanya dengan sekolah saya (Man Abdya) yang beranggotakan delapan orang, mengikuti perlombaan Giat Prestasi tingkat penegak. Ya, perlombaan ini khusus di ikuti oleh anak sekolah menengah atas sederajat (Sma dan Ma).

Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika mengikuti pramuka. Kami camping di dekat sungai yang bernama Krueng Baru, tentunya kami camping bersama sekolah-sekolah menengah atas  atau peserta lomba lainnya.

Pada saat itu saya masih duduk dikelas 1 Man dan ini merupakan pertama kalinya saya ikut pramuka. Bukan saya seorang yang kelas 1, ada beberapa teman saya kelas 1 mengikuti pramuka.

Pramuka adalah singkatan dari (Praja Muda Karana) yang berarti pemuda yang suka berkarya. Pramuka didirikan oleh Lord Robert Stephenson Smyth Baden Powell of Gilwell atau biasa dipanggil BP. Bp lahir pada tanggal 22 Februari 1857 dan dia merupakan anak dari seorang professor.

Di Indonesia, pramuka didirikan pada tanggal 9 Maret 1961. Akan tetapi, hari pramuka Indonesia dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus. Saya tidak tau pasti alasannya kenapa bisa seperti itu. 

Ada empat tingkatan pramuka berdasarkan usia, antara lain: 
  1. Pramuka Siaga (7-10 tahun)
  2. Pramuka Penggalang (11-15 tahun)
  3. Pramuka Penegak (16-20 tahun)
  4. Pramuka Pandega (21-25)

Maaf untuk kakek-kakek dan nenek-nenek lansia tidak bisa mengikuti pramuka.

Pengalaman yang paling mengesankan bagi saya adalah bisa kenal dengan teman baru, menyebrangi sungai (Bukan menyebrangi sih, lebih tepatnya pergi ketengah sungai), kerja sama tim yang baik dan pengalaman yang paling tidak pernah dilupakan oleh saya dan teman-teman gugus depan Man Abdya atau rekan satu tim saya adalah hangusnya nasi yang saya masak.

Mungkin hal ini kedengerannya sangat konyol. Walaupun konyol tapi itulah kenyataannya. Nasi gosong tersebut kerap kami sebut dengan Nasi Black Forest. Bagaimana dengan rasanya? Pasti anda sudah tau rasa nasi hangus, yang jelas bukan rasa coklat.

Pasti anda bertanya-tanya, kenapa bisa gosong? Tenang-tenang saya akan menjelaskannya. Harus saya akui, tragedi tersebut adalah mutlak kesalahan saya. 

Di hari itu, saya bertugas sebagai piket, tugas seorang piket adalah menjaga kebersihan sekaligus keamanan tenda gugus depan dan juga memasak makanan. Menyenangkan sih menjadi seorang piket, soalnya bisa istirahat hehe.

Gosongnya nasi yang saya masak tak luput dari unsur kelalaian. Pada saat itu, saya memasak nasi di kompor gas. Setelah meletakkan dandang yang berisikan beras di kompor gas, kemudian saya masuk kedalam tenda.

Ketika sedang enak golek-golek didalam tenda, saya mencium bau gosong, tak salah lagi arah bau tersebut dari dapur. Kemudian saya keluar dari tenda dan bergegas menghampiri dapur. Betapa kagetnya saya, ketika membuka tutup dandang lalu melihat nasi telah HANGUS.

Dan beginilah jadinya.

Nasi Black Forest
Walaupun namanya Nasi Black Forest tapi rasanya tak seindah namanya.
Ketika rekan satu tim dan pembina saya tau akan hal ini, saya merasa gugup. Karena saya takut akan dimarahi. Beruntung pada saat itu saya tidak diberi sanksi tegas, hanya saja ada sedikit arahan tambahan dari pembina.

Pada akhirnya, kami harus memasak satu kali lagi dengan dibantu oleh rekan saya, tentunya dengan arahan dari pembina.

Ya, ini adalah pengalaman berharga bagi saya dan ini sekaligus pelajaran penting bagi saya, agar saya kedepannya tidak lalai dalam menjalankan suatu tugas atau amanah yang diberi, tentunya harus di iringi dengan rasa tanggung jawab yang tinggi.

Bagaimana dengan kekompakkan kami? Apakah gugus depan kami hancur hanya dengan kejadian ini?

Tidak, kami akhirnya bisa kembali kompak lagi, ya tidak membutuhkan waktu yang lama sih. Dan Alhamdulillah pada saat itu kami mendapat juara III.

Nasi Black Forest
Pengalaman yang sangat indah bersama rekan satu tim dan pembina saya dulu. Dan saya sangat berharap, masa-masa seperti ini bisa terulang kembali.
Sungguh akhir yang bahagia bukan? Disaat masalah datang, kami bisa menyelesaikannya dan pada akhirnya kami bisa menjadi juara, ya walaupun juara 3 sih. Kayak di film-film.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nasi Black Forest"

Post a Comment